Minggu, 15 September 2013

PENEMBAKAN POLISI

Polisi adalah Bhayangkara Negara, pelindung masyarakat, dan pembasmi kejahatan yang ada di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Namun dalam tiga bulan terakhir ini (Juli-September 2013), justru polisi yang menjadi korban dari kejahatan itu sendiri. Polisi menjadi sasaran penembakan orang tak dikenal di berbagai tempat di jalanan, dalam situasi tak terduga dan pada saat kewaspadaan dan kesiagaan mengendur. Sudah empat orang polisi yang gugur dalam rangkaian penembakan tersebut dan dua orang cidera. Korban gugur diantaranya adalah Aiptu Dwiyanto (ditembak di daerah Ciputat, 7 Agustus 2013), Aipda Kus Hendratna, Bripka Ahmad Maulana (ditembak di daerah Pondok Aren, 16 Agustus 2013) dan Bripka Sukardi (ditembak di depan Gedung KPK, 10 September 2013). Sedangkan korban cidera diantaranya adalah Aipda Patah Saktiyono (ditembak pada tanggal 27 Juli 2013) dan Briptu Ruslan Kusuma (ditembak  di daerah Cimanggis Depok Jawa Barat, 13 September 2013). Fenomena penembakan polisi yang terjadi dalam tiga bulan terakhir ini tentu merupakan suatu tindakan yang dilakukan orang-orang yang antipati terhadap polisi. Karena secara hukum musuh polisi adalah juga musuh masyarakat. Kalau demikian adanya sudah selayaknya seluruh masyarakat berperan aktif dalam mendukung polisi mengungkap siapa pelaku/dalang dari kejahatan tersebut. Sehingga petualangan para kriminal tersebut dalam menembaki polisi dapat segera dihentikan. Semakin seringnya terjadi peristiwa penembakan polisi, mengindikasikan bahwa stabilitas keamanan di masyarakat tengah dalam situasi riskan. Betapa tidak, bhayangkara negara dan pelindung masyarakat tengah diteror oleh oleh para kriminal yang tak menginginkan/membenci keberadaan dan tugas polisi. Apapun alasannya, penembakan polisi tidak dapat ditolerir. Polisi harus segera bertindak menghentikan para kriminal tersebut. Karena tugas polisi adalah membasmi kejahatan di tengah-tengah masyarakat dan menciptakan rasa aman dalam kehidupan masyarakat tersebut. Polisi sebagai Bhayangkara negara dan pelindung masyarakat harus santun kepada masyarakatnya, namun wajib tegas terhadap musuh masyarakat. Dengan sikap demikian, masyarakat akan mencintai pelindungnya dan mendukung tugas-tugasnya dalam menghancurkan semua jenis kejahatan yang terjadi dalam masyarakat. Sikap santun polisi terhadap masyarakatnya, merupakan sikap yang sesuai dengan aturan hukum yang berlaku, membela yang benar dan menghukum yang salah sesuai prosedur hukum yang berlaku. Sikap arogan dan melawan hukum oknum-oknum polisi yang tidak bertanggung jawab akan menabur dan menyemaikan benih kebencian tidak saja bagi para kriminal tapi justru bagi masyarakatnya sendiri. Karena Kejahatan apapun modus dan bentuknya baru dapat ditumpas hanya bila masyarakat disekelilingnya mendukung langkah aparat kepolisian, dan memandang serta memperlakukan para kriminal tersebut sebagai musuh masyarakat itu sendiri, sekaligus juga musuh bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar