Jumat, 01 November 2013

Opini Lentera: KULIHAT IBU (PERTIWI) MENANGIS TERISAK-ISAK

Ketika berkunjung ke Yogyakarta beberapa waktu silam, aku melihat ada sebuah patung batu di Karang Klethak, Dusun Wonorejo, Pakem, Sleman. Patung itu menggambarkan seorang ibu pedesaan yang amat sederhana. Nama patung itu Mbok Turah. Turah berarti lebih atau berkelebihan. Mbok Turah berarti ibu yang berkelebihan.
Bagi penduduk setempat, Mbok Turah adalah kehidupan yang tepersonifikasikan dalam diri seorang ibu. Seperti kehidupan yang berkelebihan, Mbok Turah adalah ibu yang turah-turah atau berkelebihan dalam cinta, pemberian diri, pengorbanan, dan penderitaan. Dan itu semua dapat ditanggungnya karena Mbok Turah ibu yang berkelebihan dalam kesederhanaan. Beberapa seniman Yogya menggali lebih dalam ide Mbok Turah. Perupa Tamtama Anoraga membuat dipan sederhana dari bambu. Di atas dipan ditaruh tanah yang ditumbuhi rerumputan hijau, tanaman padi, dan beberapa hasil bumi. Karya yang diberi judul ”Peraduan Ibu” itu menggambarkan betapa berlimpahnya kesuburan seorang ibu. Karena kesederhanaan dan pengorbanannya, tempat yang ditidurinya pun bisa menjadi sawah yang menghijau dengan padi dan rerumputan serta hasil bumi.
Sementara Nur Kuntolo mempersonifikasikan Mbok Turah dalam karya patung berupa seorang perempuan yang bertelanjang dada. Di setengah badan perempuan itu mencuat indah buah-buah dada. Patung perempuan dengan banyak buah dada ini diberi nama Sewu Susu atau seribu susu. Idenya, betapapun miskin dan sederhananya dia, karena didorong keinginannya untuk semata-mata memberi, perempuan itu dapat mengalirkan air susu berlimpah-limpah. Kesederhanaan dan kemiskinan bukanlah alasan tak berani memberi. Justru kesederhanaan dan kemiskinan bisa menjadi seribu susu, yang tak pernah berhenti mengalirkan air kehidupan jika kita berani memberikan diri dan milik kita kepada sesama yang membutuhkan.
Mbok Turah adalah antipoda yang bersikap kritis atas perilaku serakah manusia dewasa ini. Ibu sederhana lagi miskin, tetapi berkelebihan dan senantiasa menyunggingkan senyum itu berbanding terbalik dengan Ibu Pertiwi yang sedang menangisi anak-anaknya yang kini sedang dilanda keserakahan nyaris tak mengenal batas. Sebagian anak bangsa ini, lebih-lebih mereka yang berkuasa dan berada, sedang dirasuki angkara murka keserakahan. Mereka seperti didera lapar tak karuan. Lapar kekuasaan, lapar uang dan keuntungan, lapar kepemilikan. Semua mau diuntal: hutan, sawah, gunung, lautan. Hutan dirusak dengan penebangan ilegal. Tak cukup itu, lingkungan hidup dirusak dengan mengubah hutan jadi perkebunan sawit untuk keruk keuntungan.
Daging sapi pun dikorupsi. Kita tak lagi makan daging sapi yang suci, tetapi daging sapi yang sudah terkontaminasi, dikotori nafsu uang yang dikeruk, tidak saja untuk menumpuk kekuasaan, tetapi juga untuk memuaskan nafsu syahwat. Politik berjalan atas nama kebebasan. Politikus bekerja tidak untuk menciptakan ruang kebebasan demi kesejahteraan publik, tetapi merebut wilayah kebebasan demi memupuk kekuasaan dan keuntungan sendiri. DPR adalah wakil rakyat dan kepolisian adalah lembaga penegak hukum tertinggi. Kalau DPR dan kepolisian, dua lembaga tertinggi negara, terindikasi sebagai terkorup, masihkah kita bisa berkelit menghindar dari dakwaan bahwa setan keserakahan benar-benar telah merasuki jiwa bangsa ini? Kita telah jadi makhluk yang digerakkan prinsip keserakahan. Prinsip keserakahan ini telah menjerumuskan kita menjadi masyarakat berkultur konsumtif. Kata seorang teolog dan aktivis hak asasi dari Jerman, Friedrich Schorlemmer, dalam masyarakat konsumtif mau tak mau berlaku prinsip Darwinisme, ”siapa kuat, dia menang”.
Dalam masyarakat demikian, egoisme tak hanya dibiarkan tumbuh secara alamiah. Lebih dari itu, orang dilatih sedemikian rupa jadi egoistis. Para egois yang terlatih dan profesional itu sanggup menunjukkan diri sebagai insan yang mampu bersaing, tahan dalam segala tekanan demi keuntungan yang lebih besar, mahir dalam efisiensi, dan berkepala dingin terhadap perasaan. Egois-egois itulah kader utama masyarakat zaman ini. Masyarakat egoistis tersebut sesungguhnya sedang menggali kuburan sendiri. Kata Schorlemmer, itulah, yang dilukiskan Bertolt Brecht dalam dramanya Jatuh dan Bangunnya Kota Mahagonny. Pada akhir drama dilukiskan bagaimana orang jadi tak peduli satu sama lain. Tak jelas lagi, orang-orang itu kalah atau menang.
Jadi, kata Brecht, ada kemenangan yang adalah kekalahan, ada kebangkitan yang adalah kejatuhan. Mahagonny, kota keserakahan tersebut, ibarat keadaan kita zaman ini. Kita membangun bangunan-bangunan keberhasilan, yang fundamennya rawa-rawa. Dalam arti ini, kita sesungguhnya sudah jatuh dan kalah. Menurut Schorlemmer, tak ada jalan lain menghindari kekalahan itu, kecuali kita berani berjuang melawan keserakahan diri dan mengubah sistem masyarakat agar tidak digerakkan lagi oleh prinsip keserakahan yang konsumeristis.
Kultur konsumeristis yang digerakkan prinsip keserakahan telah menipu kita. Diam-diam kita telah dibawa kultur itu menuju budaya kenyamanan. Sepintas budaya itu kelihatan mengenakkan. Namun, kata Paus Fransiskus, budaya itu membuat kita hidup dalam gelembung sabun, yang meski indah, tiada berisi. Gelembung itu menawarkan ilusi fana dan kosong, yang melahirkan ketidakpedulian terhadap orang lain. Oleh budaya kenyamanan, kita dibuat jadi orang yang hanya berpikir diri sendiri, tidak peka terhadap jerit tangis orang lain. Kata Paus Fransiskus, ”Sungguh, budaya kenyamanan itu telah membawa kita pada globalisasi ketidakpedulian. Kita telah jatuh dalam ketidakpedulian global. Kita terbiasa untuk tidak peduli pada penderitaan orang lain. Derita itu tidak menimpa aku, bukan urusanku.” Globalisasi ketidakpedulian membuat kita ”tak bernama”. Akibatnya, apabila terjadi penderitaan, tiada yang merasa ikut bersalah dan berani bertanggung jawab. Jadi, kata Paus Fransiskus, ”Kita adalah masyarakat yang telah lupa bagaimana menangis, bagaimana berbela rasa, menderita bersama orang lain. Globalisasi ketidakpedulian telah mencabut kita dari kemampuan untuk menangis.”
Seperti diajakkan Paus, kita tak boleh tinggal diam terhadap ketidakpedulian itu. Justru karena arus konsumeristis dan keserakahan yang makin menggila, inilah saatnya membangun kembali kepedulian kepada sesama. Dan menurut Tania Singer, sesungguhnya kita dapat melatih diri memupuk kepedulian sosial itu. Tania adalah profesor perempuan di Jerman, yang mendalami empati dan impuls manusia yang bisa memengaruhi kehidupan sosial. Ia meneliti, bagaimana saraf otak manusia bereaksi dan bekerja dalam kontak-kontak sosial. Singer yang juga konsultan bisnis bahkan melihat, bisnis yang sukses pun sesungguhnya bisa dibangun atas dasar kepedulian sosial. Die soziale Neurowissenschaft, ilmu pengetahuan tentang saraf-saraf sosial, menunjukkan, manusia bukanlah homo economicus, yang hanya mengenal kebutuhan sendiri, melainkan manusia yang bisa ikut merepresentasikan kebutuhan dan perasaan orang lain dalam tubuh maupun otaknya.
Sayang kehidupan dan institusi-institusi bisnis modern tidak melihat potensi dari empati dan saraf sosial itu. Kehidupan dan bisnis modern justru memblokir dan mematikan potensi tersebut. Semboyannya ”aku harus mempunyai lebih”. Dan utamanya membangun motivasi untuk meraih prestasi, persaingan, dan keuntungan. Saraf ekonomis macam itulah yang sekarang sedang menguasai dan bekerja dalam otak kita. Kita jadi terpenjara dalam ketakutan neurotis, seakan kita tidak bakal sukses jika tidak memaksimalkan prestasi, persaingan dan keuntungan.
Begitulah, bisnis modern seakan ditakdirkan untuk berjauhan dengan caring atau kepedulian yang tertanam dalam diri manusia. Singer membantah pendirian itu. Baginya, caring system atau sistem kepedulian itu dapat juga jadi basis kokoh bagi sistem bisnis. Kita perlu menyekolahkan lagi empati dan saraf sosial kita, seiring dan dalam keseimbangan dengan usaha-usaha ekonomis kita. Para ekonom perlu yakin, bahwa ”memperhitungkanliyan dan kesejahteraan bersama” adalah prinsip yang sama menguntungkannya dengan prinsip meraih prestasi dan laba.
Di dalam dunia persaingan bisnis sekarang, ekonomi hanya berpikir bagaimana meningkatkan prestasi, memperbesar modal, memperbanyak konsumsi, dan meraup keuntungan. Ekonomi lupa, semua itu perlu diseimbangkan dengan upaya meningkatkan empati, kepedulian sosial, dan berbela rasa terhadap liyan. Tanpa keseimbangan itu, anggota masyarakat terjerumus dalam ketidakbahagiaan, tersiksa oleh egoisme yang kesepian, terbudakkan oleh persaingan yang saling memakan, terbelenggu konsumerisme yang serakah tanpa kesudahan. Menurut Singer, ekonomi demikian perlu diubah jadi caring economics, ekonomi yang berkepedulian. Kita harus berjuang mati-matian mengubah prinsip keserakahan jadi prinsip kepedulian. Pedoman hidup egoistis, ”aku harus memiliki lebih” harus kita ubah jadi pedoman hidup altruistis ”memiliki kurang justru berarti lebih”. Dengan berani jadi ”kurang” dalam prestasi material dan konsumsi, kita jadi ”lebih” dalam prestasi rohani dan kemanusiaan. Kita jadi punya lebih banyak waktu untuk perjumpaan, memupuk kepedulian, meningkatkan rasa saling percaya. Itu semuanya akan meningkatkan kualitas hidup dan membuat hidup kita bahagia.
Konsep caring system di atas sebenarnya harta pusaka yang sudah kita miliki sejak semula, yakni dalam dasar negara kita: Pancasila. Seperti terbaca dalam uraian para pendiri bangsa, caring system itu sungguh sudah termaktub dalam setiap sila dari Pancasila. Dan apabila Pancasila dengan caring system-nya itu diwujudkan dalam ekonomi, kita pasti akan mempunyai dan mempraktikkan caring economics yang khas kita, ekonomi berbasis kepedulian sosial dan anti-keserakahan tersebut. Dalam sejarah lahirnya Pancasila, jelas terbaca bahwa Indonesia terjadi dan akan terus terjadi karena warganya bertekad untuk terus melanjutkan kebersamaan, keseriwayatan, kesenasiban, kesependeritaan, kesepedulian, dan keseharapan.
Tidakkah dalam pidato Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945, Bung Karno berkata, Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Negara Indonesia adalah ”semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu”. Tidakkah menurut Bung Hatta, bangsa Indonesia terjadi oleh keinsafan yang terbit karena percaya atas persamaan nasib dan tujuan? Tidakkah keinsafan itu bertambah besar karena sama seperuntungan, malang sama diderita, mujur sama didapat. Dan tidakkah bangsa ini terjadi karena jasa bersama, kesengsaraan bersama, dan karena riwayat bersama yang tertanam dalam hati dan otak kita?
Namun, celakanya, kini Pancasila kita jauhkan dari kehidupan kita. Kalaupun ada, hanyalah terdengar sebagai slogan pemanis hidup bernegara belaka. Kita mengakui Pancasila, tetapi hidup kita berjalan ke arah lain yang bertentangan dengannya. Mungkin itulah sebabnya, otak kita jadi kehilangan saraf-saraf sosialnya. Akibatnya, kita kehilangan bela rasa dan kepedulian sosial. Kita tak mencintai nilai-nilai Pancasila, akibatnya hati kita kaku dan beku, sehingga kita tidak bisa menangisi penderitaan sesama anak bangsa: setiap kita jadi anonim terhadap penderitaan. Politik kita diam-diam telah memetieskan Pancasila, akibatnya politikus kita jadi melulu konsumtif dan rakus, serta politik kita pun bergerak atas dasar prinsip keserakahan belaka.
Caring system telah menghilang dalam kehidupan berbangsa kita. Caring economics pun hanya jadi impian belaka. Lenyapnya caring economics ini kiranya sebab pokok mengapa bangsa yang turah-turah, berlimpah-limpah kekayaan alam sampai bisa terjerumus ke krisis kedelai. Politik pertanian kita terseret ke gerak ekonomi yang tak prorakyat kecil. Akibatnya, tak bisa membela rakyat terhadap keserakahan mereka yang merebut lahan pertanian demi megaproyeknya.

Krisis kedelai itu bukan hal sepele. Krisis kedelai itu tangis alam kebangsaan kita yang memberi sinyal bahaya bahwa kita tak lagi hidup dalam Tanah Air yang turah-turah atau berkelimpahan dengan hasil bumi. Negara jadi miskin karena warganya serakah. Karena keserakahan, harta Ibu Pertiwi dirampok habisan-habisan. Ibu Pertiwi ibarat bukan lagi Mbok Turah karena tak bisa memberikan lagi kelimpahan bagi putra dan putrinya, lebih-lebih yang miskin dan menderita. Sementara negaranya terpecah-pecah antara yang miskin dan kaya, karena kepedulian sosial nyaris sirna. Terhadap penderitaan sesama bangsa yang susah, anak-anaknya, yang sudah keras hatinya, tak lagi bisa mencucurkan air mata. Lebih menyedihkan lagi, anak-anaknya tak dapat menyesali dan menangisi tingkah lakunya yang salah. Itulah yang membuat Ibu Pertiwi bersusah hati. Ibu Pertiwi sedang menangisi keserakahan kita, menangis terisak-isak.


Opini Lentera.Com